PMR Indonesia Bersama Kementerian Terkait Laksanakan Uji-Coba Penerapan Pedoman MRV di Sub-Sektor Industri Semen 

06 Mar

PMR Indonesia Bersama Kementerian Terkait Laksanakan Uji-Coba Penerapan Pedoman MRV di Sub-Sektor Industri Semen 

Kunjungan ke sub-sektor industri semen di PT. Semen Tonasa, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan kali ini bermaksud untuk menyampaikan rencana uji-coba implementasi pedoman MRV tersebut.  Kunjungan lapangan dilaksanakan oleh Partnership for Market Readiness (PMR) Indonesia bersama dengan Kementerian Perekonomian, Kementerian Perindustrian dan Asosiasi Industri pada Selasa, 5 Maret 2019.

Emmy Suryandari selaku perwakilan dari Pusat Industri Hijau, Kementerian Perindustrian menyampaikan, kunjungan kali ini dilaksanakan dalam rangka pelaksanaan kegiatan uji coba sistem MRV untuk emisi GRK di industri semen. Kegiatan MRV ini akan memvalidasi dan verifikasi data pelaporan yang telah disampaikan kepada kementerian perindustrian. Ia mengatakan, 

telah terdapat peraturan Menteri Perindustrian No. 12/2012 yang mengarahkan industri semen untuk melaksanakan pelaporan data, dimana hal tersebut juga tertuang didalam  petunjuk teknis pelaporan untuk industri semen.  Ia menambahkan, adanya potensi upaya reduksi emisi GRK di industri semen yang kedepan akan dimasukkan dalam skema perdagangan karbon yang akan dibahas lebih lanjut nantinya.  

Sub-sektor industri semen dianggap telah memiliki pedoman MRV dan sistem penghitungan dan pelaporan yang lebih baik dari sub-sektor lain, untuk sub-sektor industri semen.  Penyusunan Pedoman Teknis untuk penghitungan dan pelaporan Emisi CO2 Semen Industri serta Pedoman MRV merupakan bentuk dukungan Kementerian Perindustrian untuk kegiatan ini.  

Perwakilan dari PT. Semen Tonasa, Subhan selaku Direktur Utama menyampaikan, penyusunan laporan serta penyusunan aksi mitigasi telah disampaikan ke PT. Semen Tonasa dengan bimbingan dari Asosiasi Semen Indonesia (ASI), ia mengatakan ASI juga membantu penyusunan aksi mitigasi yang dapat dilakukan oleh perusahaannya.  Subhan menambahkan, perusahaannya saat ini memanfaatkan sumber energi thermal, sudah tidak lagi energi listrik.  Inovasi pemanfaatan sampah sebagai sumber energi baru terbarukan juga dilakukan perusahaannya. 

Subhan mengatakan bahwa sejak tahun 2012 perusahaannya sudah mengurangi 2% pemakaian klinker, dimana klinker adalah salah satu sumber emisi gas rumah kaca yang besar (faktor emisi default berdasarkan IPCC Guidelines 2006 yaitu 0.52 ton. CO2/ton klinker).  Ia menambahkan, salah satu target perusahaannya pada 2019 adalah menurunkan klinker 3%.  Menurutnyan kondisi over supply diindustri semen, memicu sektor semen untuk berinovasi, baik dari sisi pasar maupun lingkungan.  Ia berharap akan adanya incentive untuk kegiatan mitigasi yang dilakukan perusahaannya diluar dari penghargaan yang didapat dari Kementerian Perindustrian (Green label). 

 

Write a Reply or Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.