Simulasi Perdagangan Karbon di MRV Workshop

01 Mar

Simulasi Perdagangan Karbon di MRV Workshop

Jakarta_Kemenko. Perekonomian didukung oleh Partnership for Market Readiness (PMR) Indonesia selenggarakan training workshop Sistem Inventarisasi Emisi GRK dan Sistem Perdagangan Emisi di Sektor Pembangkitan Tenaga Listrik dan Industri, hadir dalam kegiatan ini 60 peserta yang berasal dari perwakilan Kementerian/Lembaga dan perwakilan perusahaan/industri/asosiasi di sektor pembangkitan listrik dan industri, yang melakukan validasi dan verifikasi emisi GRK di sektor masing-masing. Kegiatan ini diselenggarakan selama 3 hari, 19-21 Februari 2019 di Jakarta.

Hari pertama kegiatan workshop dibuka oleh Asisten Deputi Bidang Pelestarian Lingkungan Hidup, Dida Gardera.  Dalam sambutannya ia menyampaikan harapannya terhadap peserta dari pelaksanaan kegiatan ini yaitu adanya pemahaman terkait perhitungan emisi GRK berdasarkan Peedoman IPCC 2006, adanya pemahaman terkait penyelenggaraan sistem inventarisasi emisi GRK dan MRV ditingkat fasilitas dan sektor, baik berdasarkan kebijakan nasional yang ada saat ini maupun standar SNI ISO 14064, peningkatan kapasitas pemangku terkait perencanaan dan penyelenggaraan sistem perdagangan emisi serta terinformasi terkait penyelenggaraan inventarisasi GRK dan sistem perdagangan emisi di berbagai negara.Data yang berkualitas ini memerlukan suatu sistem yang meliputi tata cara pemantauan/pengumpulan data, perhitungan, pelaporan dan pengendalian/penjaminan mutu. Tanpa data yang berkualitas, implementasi pembatasan emisi (cap) ataupun sertifikasi hasil penurunan emisi tidak dapat dilakukan, imbuhnya.

Hadir sebagai narasumber Retno Gumilang Dewi, ITB menyampaikan Pedoman Umum dan Pelaporan tentang Inventarisasi Emisi GRK Nasional (IPCC, 2006).  Sesi selanjutnya beliau menyampaikan mengenai tata cara penghitungan emisi GRK untuk sumber limbah. Penghitungan emisi GRK untuk sumber Energi dan IPPU juga turut disampaikan dihari pertama pelatihan ini.

Hari kedua pelatihan, mengangkat tema mengenai penyelenggaraan sistem inventarisasi emisi grk dan monitoring-reporting dan verification (MRV), sesi ini menghadirkan perwakilan dari KLHK, KESDM dan Kementerian Perindustrian, yang menyampaikan mengenai sistem pelaporan emisi grk yang diberlakukan untuk sektor pembangkitan listrik dan industri.  Masing-masing narasumber menyampaikan kebijakan, tatacara, tools dan kesenjangan yang masih ada.

Emmy Suryandari, Kementerian Perindustrian memaparkan mengenai sistem informasi industri nasional (SIINAS) khususnya terkait dengan emisi GRK dimana saat ini pada sistem tersebut telah diintegrasikan Sistem Informasi Monitoring Gas Rumah Kaca (SIM-GRK). SIINAS ini bertujuan untuk penyediaan data dan informasi industri yang akurat lengkap dan termutakhir serta mempermudah pihak industri dalam proses penyampaian data laporan kepada pihak pemerintah berdasarkan Undang-undang No.3/2014 tentang perindustrian dengan turunan PP 2/2017 tentang sarana dan prasarana industri sebagai landasan pembentukan SIINAS (peraturan menteri perindustrian tentang pengelolaan).

Benhur L. Tobing, Ditjen. Ketenagalistrikan, Kementerian ESDMmenyampaikan mengenai Aplikasi Penghitungan dan Pelaporan Emisi Ketenagalistrikan (APPLE – Gatrik) di Kementerian ESDM, yang mana aplikasi tersebut merupaka suatu perangkat berbasis web yang dapat digunaan oleh perusahaan pembangkit listrik untuk mengumpulkan data terkait emisi grk, menghitung dan melaporkan emisi grk dari unit pembangkitnya ke pemerintah, aplikasi ini mengacu pada Pedoman Penghitungan dan Pelaporan Inventarisasi Emisi GRK Sub Bidang Ketenagalistrikan dan telah mulai dioperasikan sejak Agustus 2018.  Sampai dengan saat ini 500 unit pembangkit telah mendaftarkan perusahaanya pada aplikasi tersebut.

Akmayeni, perwakilan dari KLHK memaparkan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) di KLHK yang bertujuan mendorong ketaatan industri terhadap peraturan dibidang lingkungan hidup.

Turut memberikan paparan, pakar disektor energi dan industri, Chalid Bafagih, ia menyampaikan langkah-langkah dalam melaksanakan inventarisasi, validasi dan verifikasi emisi GRK berdasarkan SNI ISO 14060.

Pada hari ketiga, pembukaan workshop international oleh Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Energi, SDA dan LH, Kemenko. Perekonomian, Montty Girianna menyampaikan mengenai Perjanjian Paris (Paris Agreement), dimana Indonesia telah menyampaikan komitmen penurunan emisi sebesar 29% di bawah level BAU pada tahun 2030, yang mana komitmen tersebut dituangkan dalam Nationally Determined Contribution (NDC). Ia menyampaikan, target ini tentunya membutuhkan dana yang tidak dapat dicakup oleh APBN saja, diperkirakan APBN hanya dapat mencakup 20-40% dari target ini sehingga diperlukan kebijakan dan instrumen lain, seperti instrumen berbasis pasar, yang dapat meningkatkan investasi swasta dalam teknologi bersih dan mendapatkan mitigasi dengan biaya efektif.

Montty juga menyampaikan mengenai instrument berbasis pasar (IBP), ia mengatakan bahwa saat ini IBP yang telah banyak diterapkan dibanyak negara telah mencakup sekitar 20% dari total emisi dunia. Ia menambahkan, bahwa IBP saat ini mengalami momentum pertumbuhan yang kuat, dan diyakini keberhasilannya dalam mendorong mitigasi perubahan iklim secara cost-effective sehingga minat penerapannya pun semakin meningkat.

Ia menambahkan, untuk dapat mempertimbangkan secara tepat implementasi opsi kebijakan mitigasi perubahan iklim yang berbasis-pasar, pemahaman holistik pemangku kepentingan terhadap IBP harus ditingkatkan. Inilah yang menjadi tujuan diselenggarkannya kegiatan workshop pagi hari ini (yang sebelumnya sudah didahului dengan training MRV selama 2 hari sejak Selasa 19 Feb 2019 lalu).

Kegiatan ini juga menghadirkan beberapa pembicara dari luar negeri (negara mitra PMR) yang berasal dari lembaga terkait dari Korea, China, dan Thailand – yang akan berbagi pengalaman terkait implementasi instrumen berbasis pasar di negara mereka. Di sesi terakhir, pada hari ketiga, dilakukan simulasi perdagangan karbon, guna memberikan pengalaman bagaimana sistem perdagangan karbon bekerja.

Peserta dibagi menjadi 8 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 7 peserta, dengan berbekal pelatihan yang telah disampaikan 2 hari sebelumnya, peserta diminta untuk simulasikan penghitungan emisi GRK dengan cap yang ditentukan. Dari pernyataan yang disampaikan peserta, manfaat dari training workshop ini sangat dirasakan, dengan adanya peningkatan pengetahuan mengenai penghitungan emisi grk dan MRV yang ditutup dengan simulasi perdagangan karbon, dapat menjadi rekomendasi peserta kepada perusahaan untuk mitigasi reduksi emisi GRK serta manfaat kedepannya bagi perusahaan.

 

 

 

Write a Reply or Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.